Selasa, 04 Januari 2011

Not Just An Ordinary Umbrella

Makna kehilangan bagi saya adalah hal-hal yang pernah saya miliki, namun di saat saya menginginkannya, ia(mereka) tidak dapat saya raih, rasakan, hayati, kembali.

Kehilangan?

Bagi saya, itu adalah hal yang sangat biasa.

Saya seorang yang pelupa. Dan tidak apik. Terutama terhadap barang-barang yang saya miliki. Dari kecil, barang-barang yang saya bawa ke sekolah pasti selalu ada saja yang tertinggal, entah itu jaket, tempat minum, tempat makan, asesoris, atau apapun itu. Pada akhirnya memang sebagian dari barang-barang tersebut hilang entah kemana, yah… mungkin berada di tangan yang lebih ‘membutuhkan’.

Terakhir saya kehilangan payung. Sebuah payung. Payung dengan motif batik, dengan sedikit warna hijau, dengan gagang dari plastik berwarna perak dan bagian bawahnya berbentuk oval. Di bagian oval itu (entah masih ada atau sudah pudar sekarang) ada lambang singa khas negara tetangga. Payung itu kecil dan sangat ringan, dan kadang saat hujan ia hampir terbawa angin bila saya tidak memegangnya dengan erat. Tapi entah kenapa saya lebih menyukai payung itu dibanding dengan payung-payung saya sebelumnya. Mungkin karena faktor awet, yang hingga beberapa bulan saya gunakan (sampai saat training di daerah Lembang) payung tersebut tidak pernah rusak.

Dan begitulah. Kadang sesuatu yang sangat kita sukai, ialah yang paling cepat pergi. Payung itupun hilang karena saya lupa membawanya pulang suatu ketika.

Kehilangan suatu barang, bagi saya itu hal yang biasa terjadi. Saya pun pernah mengalami yang lebih buruk, saat kehilangan HP. Namun kemarin, makna ‘kehilangan’ itu sangat terasa. Silahkan tanyakan kepada teman-teman saya, saat itu saya sampai mencari-cari benda itu sampai berhari-hari. Apalagi payung itu hadiah dari seorang kerabat kepada ibu saya.

Kemudian, saya berpikir. Apa yang membuat kehilangan ini terasa berat?


Karena di dalam hati, saya masih menggenggam payung tersebut dengan erat. Seolah tidak ingin melepaskannya. Masih mencari-cari jawaban atas banyak ‘Kenapa?’ yang muncul di otak saya.

Saya masih belum merelakannya. Belum memaknai bahwa inilah yang terjadi. Bukan menyalahkan siapa-siapa, berandai-andai seolah hari itu terulang kembali, ataupun mengerang dan mengeluh atas kejadian ini.

Menerimanya. Ini yang terasa berat.

Saya rasa, ini masalah yang sangat umum saat kita menghadapi suatu ‘kehilangan’. Terlepas dari apa pun objeknya. Apakah itu cinta, waktu, harta, rasa, kejadian, momen, atau bahkan hanya sebuah payung.

Dan sekarang, saya sedang ingin menikmati ‘kehilangan’ itu.

Kenapa?

Karena saya percaya, saya pasti akan menemukannya kembali, entah dalam bentuk apapun.

Bandung, 3 Januari 2011
Deiz

1 komentar:

paradoksidia mengatakan...

sedih kalo mengingat deiz yang selalu mencari payungnya. padahal yaudah aja beli payung yang baru. tapi dia kekeuh payung itu pasti kembali...
hmmm...deiz nduttttt....nduttt...

Posting Komentar